Kamis, 30 Oktober 2014

Terapkan Manajemen Krisis di Saat Genting


Menjaga eksistensi sebuah usaha bukan perkara gampang. Perlu adanya manajemen krisis yang pas agar perusahaan tidak terjun bebas. Seperti yang pernah dialami A. Willy Sudjono, Direktur Toko Asesories Komputer dan Kamera, Wisno Grahakom. Dalam menghadapi krisis ada tiga kunci utama yang bisa dilakukan yakni tenang, berbagi dengan kawan, dan berdoa.  

Sebagai salah satu toko komputer, asesories, dan kamera tertua DI Jogjakarta, Wisno Grahakom masih saja tetap eksis memberikan pelayanan yang terbaik bagi konsumen. Toko yang berdiri sejak tahun 1988 ini awalnya adalah toko buku yang kemudian pada tahun 1989 merambah pada bisnis asesories dan komputer (hardware) seperti printer, flopy disk, mother both, dan monitor, yang hingga saat ini masih banyak diperhitungkan oleh masyarakat.

Sudah menjadi hal yang lumrah ketika usaha yang didirikan tiba- tiba tidak berjalan sesuai rencana. Namun, A. Willy Sudjono punya solusinya. Caranya dengan menerapkan strategi manajemen krisis disaat- saat genting.

Willy, panggilan sehari- hari pria tiga anak ini mengatakan, ketika seseorang berada pada kondisi sulit maka orang itu harus tenang. Tidak grusah- grusuh dalam mengambil keputusan karena sebenarnya bisnis itu harus dijalankan dengan pikiran jernih, bukan keputusan sesat.

“Soalnya kalau grusah- grusuh orang itu tidak jadi ndak fokus. Apalagi kalau udah mau bangkrut. Pikirannya pasti kemana- mana,” jelasnya.

Pria kelahiran Madiun, 52 tahun silanm ini, menceritakan, pada pertengahan tahun 1997- 1998 hampir saja gulung tikar. Hal ini di karenakan karena dirinya salah mengambil strategi untuk dapat kulakan sehingga terkena dampak krisis moneter. Dimana nilai kurs dollar naik hingga tujuh kali lipat. Dari 2100 rupiah satu dollarnya jadi 17 ribu.

“Kejadian itu benar- benar bikin stress. Saya hampir saja kehilangan rumah, mobil, lengkap dengan benda- benda di dalamnya. Apalagi saat itu isteri dalam keadaan hamil,” katanya.

Meski begitu, dirinya mencoba tenang dan berpikir positif. Pasti ada jalan keluar. Sampai pada suatu saat dirinya merasa butuh teman yang dapat mendengarkan keluh kesahnya. Akhirnya tanpa berpikir panjang dirinya segera curhat kepada para relasi bisnis bahwa usahanya sedang diujung tanduk.

Dalam curhatannya, Willy mencoba meminta bantuan kepada rekannya. Sementara untuk relasi bisnis, ia tak segan- segan minta maaf jika usaha yang dibangunnya selama itu akan gulung tikar. Ajaibnya, berkat kejujuran Willy menceritakan apa yang terjadi, banyak kawan- kawan yang menaruh perhatian bahkan bersedia membantu, baik secara finansial, support, ataupun mental.

Selain berusaha untuk tenang dan membagi permasalahan dengan kawan, Willy juga tidak lupa meminta bantuan Tuhan. Menurutnya, orang hidup itu ada kalanya diberi cobaan dan ada kalanya diberi kebahagiaan. Disaat seseorang diberi kesusahan, maka satu- satunya Dzat yang dapat membantu adalah Tuhan.
“Jadi orang itu ya jangan sombong. Ingat kepada yang di Atas itu penting. Soalnya dia adalah satu- satunya Dzat yang bisa menyelamatkan kita dari krisis,” jelasnya.

Setelah krisis 1998, banyak sekali pelajaran yang dapat diambil oleh Willy. Salah satunya lebih menghargai keberadaan sampo dan sabun.

Willy menceritakan, kisah sampo dan sabun ini berawal dari kondisi ekonomi keluarga yang semakin hari semakin menipis akibat krismon. Waktu itu saking mau ngiritnya, pake sampo itu harus dicampur sama air. Sampo sedikit airnya banyak. Begitu juga dengan sabun. Karena sabun yang dipakai sabun padat, sisa dari sebelumnya dijadikan satu sama sabun baru.

Alhasil, berkat kebiasaan dimasa lalu, sampai sekarang pria yang hoby dengan fotografi ini suka sekali mengkoleksi sampo dan sabun dari hotel- hotel berbintang.  “Sebenarnya sih bukan koleksi tapi buat jaga- jaga kalo suatu saat kehabisan sampo atau sabun” ujarnya sambil bercanda.

Pengusaha itu Harus Tahan Banting

A. Willy Sudjono, Direktur Toko Asesories Komputer dan Kamera bersama keluarga besarnya
Menjadi pengusaha tidak mengurangi semangat Willy untuk berbagi ilmu seputar bisnis. Ia yang sebelumnya pernah diminta untuk mengajar disalah satu Universitas di Jogjakarta cenderung melihat anak muda sekarang miskin kreatifitas.

Meski sudah tidak muda lagi, namun Willy tak segan- segan memberi inspirasi bisnis kepada siapapun yang ingin belajar menjadi pengusaha. Terutama bagi anak- anak muda.

Menurutnya, anak muda sekarang ini banyak yang kehilangan arah. Bahkan mereka banyak yang tidak tahu arah dan tujuan selepas mereka sekolah atau kuliah. Hal ini dikarenakan pembekalan hardskill seperti prestasi akademik selalu diunggul- unggulan daripada soft kill.

Dia menjelaskan, yang namanya soft kill itu sangat- sangat penting. Contoh sederhananya adalah mengetahui kemampuan yang ada dalam diri sendiri. Misalnya seorang siswa suka design, maka harus ditanyakan, apakah dia hanya sekedar suka, tahu, atau sudah merambah pada implementasi.

Contoh soft kill lainnya adalah berkomunikasi dengan orang. Orang yang tidak pernah berkomunikasi dengan orang akan kesulitan ketika dihadapkan dengan oranglain, terutama pada saat bekerja.
“Padahal kunci untuk menjadi seorang pengusaha itu satu, pinter ngomong dan menyakinkan relasi, partner kerja, dan konsumen untuk dapat menerima produk kita,” ujarnya.

Karena menurut pengamatannya, anak muda sekarang ini sifatnya unsosial. Mereka cenderung membatasi diri untuk hal pertemanan. Misalnya saja disekolah, banyak beberapa dari siswa yang miannya suka bergerombol, alias nge-Geng. Ada juga yang hanya berkomunikasi lewat sosial media seperti twitter dan facebook.

Menurutnya, anak muda sekarang ini sama sekali tidak ada gregetnya. Mereka itu pengennya sukses tapi kebanyakan tidak mau ngrekoso. Apalagi dijaman teknologi seperti sekarang ini. Apa- apa pengennya instan. Padahal kalau ingin jadi enterprenuer proses instan ini harus ditiadakan.
“Pengusaha itu harus tahan banting, pantang menyerah, semangat dan fokus terhadap apa yang ia kerjakan dan cita- citakan,” katanya. 

Willy menambahkan, ada beberapa permasalahan yang terjadi pada anak muda jaman sekarang. Seperti rendahnya rasa juang, dedikasi, dan intergitas. 

(Diterbitkan SKH Radar Jogja, 17/10//2014)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar