Senin, 03 November 2014

Dari Anak Band Jadi Pengusaha Pernak Pernik


Terinspirasi dari produk kerajinan dan pernak pernik dari Jepang, Nanang Syaifurrozi mantan anak band yang awalnya gemar memainkan alat musik memutuskan untuk beralih memegang mesin jahit.

Tak ambil pusing dengan apa yang dikatakan orang, ia yang sejak awal telah diwarisi gen seni berupa jahit menjahit dari sang Mama mencoba membuat kerajinan tangan yang dapat menghasilkan uang. Bersama dengan sang kekasih Anne Yarina Chisti (yang saat ini telah berstatus isteri) keduanya merintis Rumah Warna sebagai bisnis masa depannya.

Siapa sangka usaha yang digelutinya sejak 15 tahun terakhir ini telah membuahkan hasil. Rumah Warna (RW) KINI memiliki 70 gerai yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia lengkap dengan ribuan karyawannya.Bahkan di tahun 2014, bisnis yang awalnya hanya berupa kerajinan kertas dan pernak- pernik kini juga merambah kedunia fashion. Salah satunya dengan membeli Seephllyz sebagai salah satu bagian dari Rumah Warna.

Kisah Rumah Warna sendiri berangkat dari kegemaran Nanang dan Anne dalam membuat kerajinan tangan ditahun 1999. Nanang yang saat itu berstatus sebagai anak band tak sengaja melihat peluang dimana produk kerajinan kertas Jepang begitu diminati oleh masyarakat.

“Waktu itu saya sempat liat- liat ke toko ada yang menjual produk kerajinan dari jepang dengan harga serba 5000. Karena lucu  dan ramai pembeli kenapa tidak berbisnis ini” ujar Pria kelahiran Banjarnegara 18 September 1979 ini.

Sejak kejadian itu Nanang dan Anne memutuskan untuk membuat kerajinan tangannya sendiri. Bermodalkan uang 50 ribu, keduanya pun berinovasi dalam membuat kerajinan kertas. Jualannya pun mereka fokuskan seputaran teman- ke teman. “Dari sinilah, karena teman- teman banyak yang suka saya dan Anne memutuskan jualan di Sunmor dan mendapat sambutan positive,” terangnya.

Nanang mengaku, produk  yang pertama ia buat adalah bingkai (frame) foto. Rumah produksinya pun ia lakukan di kamar kostnya dnegan memanfaatkan teman- teman kost sebagai sumberdayanya. “Ya, waktu itukan belum ada karyawan, jadi ya saya berdayakan anak- anak kost buat bantu- bantu ini itu,” jelasnya.
Baru ditahun 2002 bisnisnya mulai merambah ke model pernak- pernik seperti dompet, tas, dan asesories seperti tempat Hp, Binder, dan lain- lain. Berbagai orderan pun kemudian berdatangan, tak terkecuali pesanan dari luar negeri.

“Dulu itu sempat dapat orderan dari Spanyol, Yunani, dan Jepang. Tapi karena harga jual yang rendah dan pemesan agak rewel, pada ditahun 2004, ekspor saya stop. Sebagai gantinya saya fokus kepenjualan dalam negeri,”katanya.

Berbeda dengan produk Jepang, pernak- pernik yang dibuat Rumah Warna jauh lebih collour full dibanding dengan produk dari Negeri Matahari terbit tersebut. Designnya pun dibuat lebih ceria dengan karakter- karakter lucu di dalamnya. Bahkan dari segi segementasi, target pasar Rumah Warna lebih banyak menyasar anak- anak muda.

Ia memaparkan, apa yang menjadi keberhasilannya kini bukan semata- mata keajaiban biasa. Perlu adanya kerja keras dan fokus pada setiap perjalannya. “Jujur kalau cerita membangun usaha yang sampai berdarah- darah itu tidak ada. Adanya Ccma pasang surut sebuah usaha,” katanya.

Baginya, pasang surut sebuah usaha itu biasa. Trial dan error menjadi bagian yang terpisahkan untuk mencapai sebuah target yang diinginkan. ‘Kunci sukses itu ada tiga, kerja keras, focus, dan memulai bisnis jangan merugikan orang lain,” terangnya.

Selain itu Nanang juga membagi tips untuk anak muda yang ingin membuka suatu usaha. Pertama mereka harus memantapkan hati. Mau jadi apa 10 tahun ke depan.

“Anak muda sekarang itukan sukanya instan, punya target tapi cuma empat atau lima bulan. Itu terlalu singkat. Kalau mau membangun usaha dimulai dari 10 tahun dari sekarang,” ujarnya.

Kedua, lanjutnya, jangan melihat keberhasilan seseorang dimasa kejayaannya tetapi masa sebelum- sebelumnya. Hal ini tentu berkaitan dengan motivasi kehidupan seseorang. Ketiga, menghargai waktu.
“Ingat waktu it uterus berputar. Seseorang yang memanfatkan waktu dengan bersantai- santai khususnya diusia muda, di waktu tua hidupnya akan ngrekoso. Begitupula sebaliknya,” jelasnya.

Terapkan Sistem Kemitraan

Kesuksesannya dalam membangun bisnis kerajinan, pernak- pernik dan fashion, menuntut Nanang Saifurrozi (35) Pemilik Rumah Warna Corporation untuk terus berkreasi dan berinovasi. Tak hanya seputar pengembangan produk tetapi juga sistem manajemen.

Jika pengusaha lain memilih sistem Franchise (waralaba) sebagai usaha memperluas cabang dan upaya memperkenalkan produknya kepada masyarakat, memasuki tahun 2014, Nanang dan Rumah Warna justru ingin meghapus sistem tersebut dan beralih pada sistem kemitraan. Alasannya karena dianggap lebih syariah, hemat biaya, dan tidak ingin memberatkan partner atau pelaku bisnis lain.

"Konsep bisnis yang saya pegang, jangan sampai merugikan orang lain. Sebagai seorang pengusaha biasa, saya hanya ingin give and give. Bukan give and take atau bahkan take and give," ujanya saat ditemui di Kantor Rumah Warna Jalan Ring Road Utara, Kemarin (29/10).

Baginya, mengembangkan bisnis tak hanya sekeda menghitung untung dan rugi tetapi juga harus memikirkan sisi kemanusiaan pada si relasi bisnis. Nanang menjelaskan, dalam disistem Franchise, orang yang mau buka usaha pasti diminta modal sekian ratus juta rupiah atau berapa dan setiap bulannya harus setoran sekian rupiah sesuai dengan perjanjian yg telah disepakati. Padahal yang namanya usaha, pasti ada saatnya untung dan ada saatnya rugi.

"Untung rugi inilah yang kadang tidak disadari atau dimengerti oleh pemilik utama. Istilah kasarnya sebagai pemilik utama hanya tinggal duduk menunggu sejumlah nominal uang masuk ke rekening perusahaan. Padahal kita sama sekali tidak tahu apakah bulan ini si relasi itu untung atau rugi. Tau- tau diakhir bulan ditarik sekian juta. Ini benar- benar menyentuh hati," paparnya.

Selain franchise, manajemen yang diperbaharui adalah sistem pemasaran. Dimana Nanang lebih menekankan promosi dari mulut ke mulut lewat sistem semi MLM (Multi Level Marketing). Caranya dengan membuat katalog bulanan yang dikemas dengan konsep seperti majalah.

Hal tersebut tentu saja berlawanan dengan sistem pemasaran yang sudah ada karena awalnya usaha yang didirikannya ini menggunakan sistem pemasaran konvensional dengan membuka menjual produknya di toko.
"Sebenarnya konsep ini masih dalam tahap pembahasan dan belum terealisasi. Namun kami berharap konsep ini dapat segera selesai tahun ini," terang Bapak empat anak ini.

Tak Masalah Produknya Dijiplak, Itung- Itung Promosi Gratis

Sudah bukan hal baru, jika brand yang telah memiliki nama selalu dibuat versi KWnya. Tak terkecuali untuk produk Rumah Warna. Menyikapi hal tersebut Nanang mengaku biasa saja, bahkan ia malah merasa bersyukur dan bangga sebab produknya dapat diterima masyarakat.

“Adanya KW itu membuktikan jika produk kita banyak yang suka. Buktinya design kita ada dimana- dimana,” ujar Nanang sambil tertawa.

Bagi Nanang, maraknya produk KW di pasaran justru mendatangkan berkah sendiri. Diakui atau tidak barang KW kerapkali membawa pelanggan yang awalnya tidak tau dengan produk Rumah Warna menjadi tau.

Dia mencontohkan, saat barang KW itu ditawarkan, pasti si penjual akan menyebut brand kita sebagai promosi awalnya. Ini lo, tas KWnya Rumah Warna kalau ada orang yang tidak tau, pasti orang itu akan menanyakan kembali. Rumah Warna itu apa. Disitulah terjadi proses pertukaran informasi antara penjual dan pembeli. Dimana pembeli akan menjelaskan apa itu RW dan apa saja produknya.

“Bukankan malah menguntungkan? Bagi saya itu promosi dan itu bagus. Kita tidak usah repot- repot cari pelanggan. Kalau dia mau yang asli dia tinggal datang ke gerai dan beli produk kami,” terang Nanang.

Nanang mengaku, ia sama sekali tidak mempermasalahkan barangnya dibuat KW atau tidak. Bahkan jika berbicara rejeki, rejeki itu sudah ada yang atur. “Saya sama sekali tak percaya kalau rejeki itu tertukar yang ada rejeki itu sudah diatur sama Tuhan,” katanya.

Olehkarena itu, untuk memberikan diferensiasi produk, antara barang KW dan Ori, Rumah Warna akhirnya memberlakukan system bergaransi. Jadi semua produk yang divbeli dari gerai asli bisa ditukar atau diganti jika terjadi cacat fisik. “Sesuai tagline kita, Beda, Gaya, dan Bergaransi,” ujarnya.

Selain tagline, Rumah Warna juga dilengkapi visi dan misi sebagai pelengkapnya. Visi Rumah Warna, menjadi perusahaan fashion dan craft nomer satu di Indonesia yang terbesar, terbaik, dan bermanfaat. Terbesar dengan 500 store dan 50 ribu tenaga kerja, “Itu sih baru anggan-anggan. Kenyataannya kami baru punya 70 gerai dengan ribuan karyawan,” terangnya.

(diterbitkan Radar Jogja, 31/10/2014)

Sabtu, 01 November 2014

30 fakta tentang Aqoe


1. Sagitarius
2. Cubby
3. Pecinta bakso
4. Paling eneg kalo liat bubur sama susu putih.
5. Fans beratnya Tere Liye
6. Gak suka olahraga
7. Pecinta drama korea
8. Paling benci film horor kalo setannya perempuan macam setan jepang dan thailand.
9. Pernah nangis- nangis gak karuan gara2 liat endless love. Demi Allah, film ini bikin terharu.
10. Suka banget yang namanya Bi Rain Oppa dan Song Seung Hon. Habis kedua aktor korea selatan ini ganteng2 sih.
11. CN Blue, group band yang menurut meta paling yahut. Aliran musiknya yg khas bikin ane klepek2..
12. Sewaktu bayi kuping meta pernah dijahit gara2 kejatuhan buah nangka pas lagi mandi. (Waktu itu posisi pohon.ada disamping kamar mandi. Saking tingginya cabangnya nyebar kemana2. Beberapa diantaranya pas di atas kamar mandi).
12. Meta kecil paling suka naik sepeda dan main sama anak laki2. Bahkan sampe sekarang temen meta kebanyakan laki- laki.. -_-
13. Meta kecil juga suka ngambilin uang sawuran (uang yang ditabur bersama bunga2an pada saat ada upacara orang meninggal). Uang yang didapat kemudian dipukul2 dengan maksud agar si jenazah yg dimakamkan tidak menganggu si pengambil uang. Hahaha..
14. Punya bekas luka knalpot dikaki kanan. Gara2 waktu TK sering nglidik naik motor Bapak yg suka diparkir di halaman.
15. Meta kecil suka banget berburu burung emprit pake senapan angin. Keren gak gue waktu itu, untung gak kayak ditv2 sekarang, anak main senapan kenanya bukan burung tapi orang.
16. Meta kecil suka banget main PS, baca komik, sama nonton kartun.
17. Pernah bikin nanggis temen gara2 gak dipinjemi bola kasti. Bola itu meta lempar ke semak2 dan meta tinggal pergi. Si temen ini kemudian nanggis dan lapor sang ibu. Meta pun kena marah dan dipaksa nyari bola itu kesemak2 sampe badannya bentol2 digigit serangga.
18. Suka pake sepatu booth ke sekolah. Maunya si modis dan stylish tapi kebanyakan temen dan guru bilangnya salah kostum.
19. Waktu SD pernah dapet surat cinta, warnanya pink yg disemprot pake parfum. Wanginyaa hmmm semerbak. Tapi sayang meta gak suka sama pengirimnya.
20. Di kelas 6 juga, meta pernah disukain cowok sampe nguber2 ketempat TPA. Untuk kedua kalinua, meta mengacuhkan itu semua.
21. Meta adalah tipe cewek cuek, fleksibel, gampang bergaul, pekerja keras, namun emosional.
22. Paling benci sama pelajaran bahasa inggris. Setelah gedhe baru sadar kalo bahasa inggris ini penting banget buat anak sosial.
23. Waktu SMP pernah gak dibolehin masuk sama pak satpam gara2 terlambat. Tapi bukan meta kalo gak bisa masuk kelas. Lompatlah meta dari pagar samping sekolah yg tidak diketahui pak Satpam. Hahaha
24. Waktu SMP pernah dimarahin kepala sekolah gara2 makan soto disamping masjid sekolah. Katanya ngotor2in. Padahal bukan batas suci.
25. Pernah maki2 teman gara2 gak bawa presentasi. Sampe temen itu meta ancam kalo kelompok kami gak presentasi hari ini urusannya dibelakang. Astagfirullah..padahal yg meta bully ini cowok..hadeehh. Maap ya Mr. Ze..
26. Gara2 di sekolah di SMP swasta, waktu SMA jadi kayak preman. Padahal waktu itu jilbaban. Pernah berantem sama temen sampe dorongan2 ditangga sekolah. Dan akhirnya sitemen itu tumbang. (Padahal si temen ini anak guru). Untung die gak lapor emaknya kalo sebenarnya aku aniaya dia. Xixixi..maaf ya kawan.
27. Waktu SMA meta ini pemilik poin terbanyak, gara2 sering terlambat.
28. Setiap kali ambil rapot, pulang2 bapak selalu marah2in meta. Kenapa? Karena selalu diceramahin perihal perilaku meta disekolah. Udah telatan, sering bolos ke kantin pas jam pelajaran, pernah bikin rusuh tempat parkir gara ngejatuhin motor secara pararel, persis kalo kita nyusun remi terus disenggol, remi yg lain ikut jatuh.
29. Pernah adu mulut sama kepala sekolah gara2 pake jaket sampe kelas. Peraturannya waktu itu, jaket harus dilepas kalo sudah sampe parkiran. Dan tidak boleh pake baju non formal selama pelajaran kecuali baju seragam.
30. Pernah suka sama seseorang tapi sayang bertepuk sebelah tangan
31. Pernah dikerjain temen saat ultah ke 17 dengan menghadirkan si doi sebagai kado spesial. Sumpah kejadian ini bikin ane malu berat.

Kamis, 30 Oktober 2014

Gagal Jadi Dokter Spesialis Mata, Banting Stir Jadi Pengusaha


Berawal dari kegagalannya menjadi dokter spesialis mata, dr. Gideon Hartono akhirnya banting stir menjadi seorang pengusaha. Tak jauh- jauh dari profesi awalnya yakni seorang dokter puskesmas, pria kelahiran Jogjakarta 10 Oktober 1963 ini lebih memilih mendedikasikan diri dibidang kesehatan dan pendidikan. Salah satunya dengan berjualan obat yang direalisasikan dalam bentuk apotek 24 jam atau yang dikenal dengan sebutan Apotek K24.

Pria 52 tahun ini mengaku, berdirinya apotek K24 tidak terlepas dari pengalaman pribadinya saat  ingin melanjutkan profesi sebagai spesialis di salah satu Universitas terkemuka di Jogjakarya. Namun karena ia adalah seorang keturunan Tionghoa maka sulit baginya untuk mendapatkan kursi di Universitas.

"Dulu yang namanya keturunan Tionghoa itu selalu dinomerduakan. Tidak hanya dalam mencari pekerjaan, dibidang pendidikan pun juga demikian," terangnya.

Meski begitu dr. Gideon tidak putus asa. Sembari menenangkan hati, ia saat itu berstatus sebagai PNS dibidang kesehatan menerung dan mencoba berdialog antara dengan diri sendiri dengan Tuhan. Dalam penerungannya terbesit kejadian masa lalu dimana masih banyak orang yang kesulitan mencari obat dimalam hari ataupun hari libur. "Kalaupun ada pasti harganya diatas harga normal," jelasnya.

Ia melanjutkan, orang sakit itukan tidak ada batasan waktunya. Sakit itu datangnya ya tiba- tiba. Bisa malam atau hari libur. Nah kalau sewaktu- waktu perlu obat masak harus ke rumah sakit. Bagi masyarakat kalangan bawah hal itu tentu sangat memberatkan mereka.

Berangkat dari keprihatinannya itulah, di tahun 2002, pria yang suka dengan fotografi ini memiliki ide untuk membuka apotek 24 jam non stop dengan pelayanan full yakni buka selama 24 jam baik hari biasa ataupun hari libur dengan harga sama, pagi, siang, dan malam. Dengan mengusung singkatan, Komplit Obatnya, 24 Jam Bukanya, akhirnya pada tanggal 24 Oktober 2002 apotek K24 berhasil diresmikan.

Pelayanan yang diutamakan apotek K24 meliputi banyak hal. Tidak hanya seputar hari serta jam bukanya tetapi juga memberikan secara komplit, menjual obat- obatan asli (original), layanan apoteker secara gratis, dan menyediakan pelayanan antar.

Apotek K24 sendiri adalah apotek pertama yang diwaralabakan. Menginjak usianya yang ke 12 tahun, apotek dibawah jaringan PT. KDE Indonesia telah berkembang pesat menjadi apotek 24 jam terbesar dengan jumlah cabang 343 apotek tersebar diseluruh Indonesia.

Diakuinya, bukan perkara mudah untuk dapat membangun bisnis menjadi sebesar yang sekarang. Mau belajar, pantang menyerah, dan tetap berusaha, menjadi tiga kunci sukses berhasilnya suatu usaha. Selain usaha itu harus dimulai dengan sesuatu yang baru.

“Inovasi itu penting. Memulai usaha jangan yang sudah ada. Learning by doing kunci dari sebuah keberhasilan. Di dunia bisnis, trial and error adalah suatu yang biasa, jika seseorang ingin sukses ya harus melaluinya,” terangnya.

Tak hanya itu untuk mendukung pelayanan dari K24, dr. Gideon juga mendirikan Hi- Lab Diagnostic Center sebagai laboratorium klinik yang dapat digunakan untuk melakukan pengecekan secara cepat, tepat, dan mudah karena dapat dilakukan dengan sms atau internet online.

Kemampuannya Bermarketing Didapat dari Bisnis Moci

Selain dari sisi kemauan, kerja keras, pantang menyerah, dan lain- lainnya, keberhasilan sebuah usaha itu juga harus didasari oleh kemampuan berkomunikasi dan rasa profesionalitas. “Sebagai pengusaha, kita tidak bisa menjalankan usaha sendiri tanpa bantuan dari orang lain. Untuk itu komunikasi, kemampuan memasarkan, dan negosiasi sangat- sangat dibutuhkan,” ujarnya.

Dirinya mengaku, kemampuan berkomunikasi dan marketingnya ini didapat sejak ia duduk dibangku SMP. Tepatnya saat menjalankan bisnis tepung beras merah.

Berangkat dari pengalaman masa lalu, ia yang terlahir dari keluarga yang tidak mampu memaksanya untuk dapat membantu orangtuanya. Caranya dengan berjualan tepung beras merah yang dijadikan bubur bayi ataupun kue moci ke pasar- pasar tradisional.

Percaya gak percaya, diusianya yang masih belia dr. Gideon kecil sudah menjajakan dagangannya sampai Klaten. Sambil ditemani sang karyawan, almarhum Bapak Kuat, setiap hari libur ia selalu mengantar pesanan dengan perasaan semangat.

“Senangnya karena saat itu naik angkot. Jarang- jarang bisa naik angkot sampe keluar kota. Apalagi sampe klaten,” ujarnya.

Ia mengaku, hal yang paling tak terlupakan dari pengalaman tersebut adalah duduk disebelah kiri Pak Kuat dan jangan lupa menggancing kantong celananya dengan peniti. Jadi dulu, ibu dr. Gideon pernah berkata kalau ia sudah dapat uang alias bayaran, uangnya harus ditaruh kantong dan diberi peniti.

“Itu kalau kantongnya di celana. Katanya sih biar gak dicopet. Kalaupun dicopet, si copet akan kesulitan mengambil uangnya,” katanya sambil tertawa.

Karena pengalamannya itulah, sejak SMP, dr. Gideon telah akrab dengan namanya tawar- menawar, bertemu pelanggan, dan proses negosiasi. Membungkuk, berkata sopan, dan memperlakukan pelanggan bak seorang raja menjadi pelajaran tersendiri. Bahkan hingga kini semua kebiasaan tersebut masih dibawanya hingga sekarang.

“Jadi saat pertama kali saya terjun sebagai pengusaha dan harus bertemu dengan orang, saya sama sekali gak shock. Karena dari awal saya sering berkomunikasi dengan orang,” jelas anak ke lima dari tujuh bersaudara ini.

Ia mengungkapkan, pengusaha itu jangan sombong, mentang- mentang kita sudah jadi atasan lantas meninggalkan sopan santun, tata karma, bahkan slogan pelanggan adalah raja. Karena tanpa pelanggan, kita itu tidak ada apa- apanya.

(Diterbitkan Radar Jogja, 24/10/2014) 

Terapkan Manajemen Krisis di Saat Genting


Menjaga eksistensi sebuah usaha bukan perkara gampang. Perlu adanya manajemen krisis yang pas agar perusahaan tidak terjun bebas. Seperti yang pernah dialami A. Willy Sudjono, Direktur Toko Asesories Komputer dan Kamera, Wisno Grahakom. Dalam menghadapi krisis ada tiga kunci utama yang bisa dilakukan yakni tenang, berbagi dengan kawan, dan berdoa.  

Sebagai salah satu toko komputer, asesories, dan kamera tertua DI Jogjakarta, Wisno Grahakom masih saja tetap eksis memberikan pelayanan yang terbaik bagi konsumen. Toko yang berdiri sejak tahun 1988 ini awalnya adalah toko buku yang kemudian pada tahun 1989 merambah pada bisnis asesories dan komputer (hardware) seperti printer, flopy disk, mother both, dan monitor, yang hingga saat ini masih banyak diperhitungkan oleh masyarakat.

Sudah menjadi hal yang lumrah ketika usaha yang didirikan tiba- tiba tidak berjalan sesuai rencana. Namun, A. Willy Sudjono punya solusinya. Caranya dengan menerapkan strategi manajemen krisis disaat- saat genting.

Willy, panggilan sehari- hari pria tiga anak ini mengatakan, ketika seseorang berada pada kondisi sulit maka orang itu harus tenang. Tidak grusah- grusuh dalam mengambil keputusan karena sebenarnya bisnis itu harus dijalankan dengan pikiran jernih, bukan keputusan sesat.

“Soalnya kalau grusah- grusuh orang itu tidak jadi ndak fokus. Apalagi kalau udah mau bangkrut. Pikirannya pasti kemana- mana,” jelasnya.

Pria kelahiran Madiun, 52 tahun silanm ini, menceritakan, pada pertengahan tahun 1997- 1998 hampir saja gulung tikar. Hal ini di karenakan karena dirinya salah mengambil strategi untuk dapat kulakan sehingga terkena dampak krisis moneter. Dimana nilai kurs dollar naik hingga tujuh kali lipat. Dari 2100 rupiah satu dollarnya jadi 17 ribu.

“Kejadian itu benar- benar bikin stress. Saya hampir saja kehilangan rumah, mobil, lengkap dengan benda- benda di dalamnya. Apalagi saat itu isteri dalam keadaan hamil,” katanya.

Meski begitu, dirinya mencoba tenang dan berpikir positif. Pasti ada jalan keluar. Sampai pada suatu saat dirinya merasa butuh teman yang dapat mendengarkan keluh kesahnya. Akhirnya tanpa berpikir panjang dirinya segera curhat kepada para relasi bisnis bahwa usahanya sedang diujung tanduk.

Dalam curhatannya, Willy mencoba meminta bantuan kepada rekannya. Sementara untuk relasi bisnis, ia tak segan- segan minta maaf jika usaha yang dibangunnya selama itu akan gulung tikar. Ajaibnya, berkat kejujuran Willy menceritakan apa yang terjadi, banyak kawan- kawan yang menaruh perhatian bahkan bersedia membantu, baik secara finansial, support, ataupun mental.

Selain berusaha untuk tenang dan membagi permasalahan dengan kawan, Willy juga tidak lupa meminta bantuan Tuhan. Menurutnya, orang hidup itu ada kalanya diberi cobaan dan ada kalanya diberi kebahagiaan. Disaat seseorang diberi kesusahan, maka satu- satunya Dzat yang dapat membantu adalah Tuhan.
“Jadi orang itu ya jangan sombong. Ingat kepada yang di Atas itu penting. Soalnya dia adalah satu- satunya Dzat yang bisa menyelamatkan kita dari krisis,” jelasnya.

Setelah krisis 1998, banyak sekali pelajaran yang dapat diambil oleh Willy. Salah satunya lebih menghargai keberadaan sampo dan sabun.

Willy menceritakan, kisah sampo dan sabun ini berawal dari kondisi ekonomi keluarga yang semakin hari semakin menipis akibat krismon. Waktu itu saking mau ngiritnya, pake sampo itu harus dicampur sama air. Sampo sedikit airnya banyak. Begitu juga dengan sabun. Karena sabun yang dipakai sabun padat, sisa dari sebelumnya dijadikan satu sama sabun baru.

Alhasil, berkat kebiasaan dimasa lalu, sampai sekarang pria yang hoby dengan fotografi ini suka sekali mengkoleksi sampo dan sabun dari hotel- hotel berbintang.  “Sebenarnya sih bukan koleksi tapi buat jaga- jaga kalo suatu saat kehabisan sampo atau sabun” ujarnya sambil bercanda.

Pengusaha itu Harus Tahan Banting

A. Willy Sudjono, Direktur Toko Asesories Komputer dan Kamera bersama keluarga besarnya
Menjadi pengusaha tidak mengurangi semangat Willy untuk berbagi ilmu seputar bisnis. Ia yang sebelumnya pernah diminta untuk mengajar disalah satu Universitas di Jogjakarta cenderung melihat anak muda sekarang miskin kreatifitas.

Meski sudah tidak muda lagi, namun Willy tak segan- segan memberi inspirasi bisnis kepada siapapun yang ingin belajar menjadi pengusaha. Terutama bagi anak- anak muda.

Menurutnya, anak muda sekarang ini banyak yang kehilangan arah. Bahkan mereka banyak yang tidak tahu arah dan tujuan selepas mereka sekolah atau kuliah. Hal ini dikarenakan pembekalan hardskill seperti prestasi akademik selalu diunggul- unggulan daripada soft kill.

Dia menjelaskan, yang namanya soft kill itu sangat- sangat penting. Contoh sederhananya adalah mengetahui kemampuan yang ada dalam diri sendiri. Misalnya seorang siswa suka design, maka harus ditanyakan, apakah dia hanya sekedar suka, tahu, atau sudah merambah pada implementasi.

Contoh soft kill lainnya adalah berkomunikasi dengan orang. Orang yang tidak pernah berkomunikasi dengan orang akan kesulitan ketika dihadapkan dengan oranglain, terutama pada saat bekerja.
“Padahal kunci untuk menjadi seorang pengusaha itu satu, pinter ngomong dan menyakinkan relasi, partner kerja, dan konsumen untuk dapat menerima produk kita,” ujarnya.

Karena menurut pengamatannya, anak muda sekarang ini sifatnya unsosial. Mereka cenderung membatasi diri untuk hal pertemanan. Misalnya saja disekolah, banyak beberapa dari siswa yang miannya suka bergerombol, alias nge-Geng. Ada juga yang hanya berkomunikasi lewat sosial media seperti twitter dan facebook.

Menurutnya, anak muda sekarang ini sama sekali tidak ada gregetnya. Mereka itu pengennya sukses tapi kebanyakan tidak mau ngrekoso. Apalagi dijaman teknologi seperti sekarang ini. Apa- apa pengennya instan. Padahal kalau ingin jadi enterprenuer proses instan ini harus ditiadakan.
“Pengusaha itu harus tahan banting, pantang menyerah, semangat dan fokus terhadap apa yang ia kerjakan dan cita- citakan,” katanya. 

Willy menambahkan, ada beberapa permasalahan yang terjadi pada anak muda jaman sekarang. Seperti rendahnya rasa juang, dedikasi, dan intergitas. 

(Diterbitkan SKH Radar Jogja, 17/10//2014)



Selasa, 02 September 2014

Selamat Jalan Kawan

Satu lagi kawan yang telah berpulang ke Rahmatullah. Alhasil gara2 takziah tadi siang, malam ini penulis sama sekali tak bisa tidur. Gak tau kenapa keinget-inget sama almarhum dek roni. Padahal kalau dirunut dari unsur kedekatan, hubungan kami berdua, biasa- biasa saja. Ya...cuma temenan biasa, yang kebanyakan kalau ketemu isinya cuma guyon kere, ejek2an, sama bahas masalah yg gak penting dan ujung-ujungnya berakhir menjadi masalah penting.
Selama kenal almarhum, dia itu sukanya nglucu. Hidupnya itu selo. Santai seperti di pantai, asyik kayak makan keripik. Yang buat penulis bener2 keinget sama almarhum ini ada dua, pertama tentang aksen dan dialek Jawa yang dilontarkan almarhum, kedua, si almarhum ini suka bikin berita yg gak bener (niatnya sih buat guyon-guyon) tapi ujung2nya karena guyonnya terkadang kelewatan seru kayak jadi beneran.
Penulis ingat benar, waktu itu almarhum ngegosip bikin berita yang enggak2 antara penulis dengan salah satu senior. Padahal hubungan penulis sama si senior ini sama sekali biasa- biasa. Todak ada perasaan apapun, apalagi benih- benih suka. Namun karena kebiasaan almarhum membumbui cerita jadilah gosip spektakuler se antero kampus. Kebiasaan si senior kalau manggil penulis dengan sebutan Bunda, menjadi pokok bahasan yang layak dijual. Berdasarlan kabar beredar jika si penulis adalah kekasih baru si senior. Gegara berita sampai penulis lulus, predikat Bunda dan Meta adalah pacar senior masih saja melekat. Padahal realitanya, cerita itu sama sekali tidak benar. Hahahaha....
Mungkin sebagian dari kalian bertanya- tanya mengapa hal seperti ini penulis ceritakan? Bagi sebagian orang, kejadian seperti ini adalah biasa. Semua orang pasti pernah mengalaminya. Namun bagi penulis, cerita ini menjadi momen tak terlupakan ketika yang membuat gosip ini adalah teman kalian. Teman yang akhirnya pergi mendahului kita semua. Selamat jalan teman. Semua yang kau lakukan selama ini alan menjadi kenangan yang tak terlupakan. Terimakasih, terimakasih untuk cerita, terimakasih untuk guyonannya, terimakasih telah menjadi adek dari organisasi foto kami. Terimakasih atas partisipasimu untuk belajar fotografi, dan yang terpentinh terimakasih telah menjadi teman. Selamat jalan teman, semoga engkau tenang di alam sana. I love u so much..

Jumat, 29 Agustus 2014

Sugeng Rawuh

Ngaturaken sugeng rawuh sedoyo,...monggo mampir wonten blog Mbak Aqoe Metta. Hahahah,..

Ditengah dinginnya udara pagi kota Jogja gegara perubahan cuaca, rasanya kok pengen ketik- ketik lagi ya? Hahaha,..maklumlah sodara- sodara, udah lebih dari enam bulan, saya kagak curhat diblog. "Diblog? emang sebelumnya punya blog apa?", Pertanyaan klasik yang menusuk. Hahaha,....- NB: Pertanyaan ini sengaja ane tulis, buat mengantisipasi cyber bullying yang kerap dilontarkan oleh sahabat- sahabat saya. Karena banyak diantara mereka itu sebenarnya Ganteng- Ganteng Srigala (Baik diluar Jahat di Dalam). Hahaha,..

Oke,..saatnya fokus dan kembali kejawaban atas pertanyaan. Ya punyalah,.. dulu jaman kuliah kalo lagi boring, kegiatan saya ya tulis- tulis. Tapi gara- gara ada kesibukan lain, akun yang saya bangun dengan jerih payah keringat, semangat, dan tidak sedikit menguras otak, karena kebanyakan dari tulisan yang saya buat adalah reportase tugas- tugas kuliah, lama- kelamaan dinomerberapakan. Alhasil, setelah beberapa bulan, saya yang orangnya emang pelupa, akhirnya benar- benar melupakan akun kesayangan saya. Alamat email dan password, nyawa dari sebuah akun, ikut lenyap bersama ketololan dan kepikunan saya. Dan taukah kalian bagaimana rasanya kehilangan akun sodara- sodara??? Stress,.. benar- benar stress. Rasanya seperti ingin bunuh diri. Oke,.. apakah terlalu lebay?? Baiklah,..Haaahh (menghela nafas panjang),... kalau begitu saya tunjuk dada saja dan bilang "Sakitnya tu disini."

Saat itu, saya tak patah arang. Meski saya lupa ingatan, saya tetap harus mengingat- ingat  alamat email yang pernah saya buat. Karena waktu itu saya masih muda, saya kira pasti alamatnya tidak jauh- jauh dari nama- nama alay. Maklum diusia yang lebih dari kepala dua, saya akui saya sering buat- buet alamat email. Saking banyaknya sering lupa. Ajaibnya,..setelah berjam- jam mengingat- ingat, terus mengingat, kembali mengingat, sambil sesekali ngemil, bikin mie gelas, dan nongkrong di kamar mandi, TET TET TET RE RET,....berhasil- berhasil- berhasil hore,..saya ingat alamat emailnya. Tanpa tunggu komando, langsung saya login lewat verifikasi email. Dan ternyata, puji syukur atas anuegrah dan nikmat yang Maha Kuasa, akun gue bisa dibuka (sesekali pake gue- gue, elo- elo yes, biar kayak anak Jakarte).

Berawal dari sedikit cerita di atas, "Apa, sedikit??", Tenang,...tenang,...saya ralat. Kali ini serius. Dari cerita yang panjang tersebut, saya memutuksn untuk membuat akun baru. Berbeda dengan akun sebelumnya, blog ini hanya berisikan luapan penulis kalau lagi selo. Macemnya ada puisi- puisi galau, cuap- cuap ringan, sedikit cerita yang penulis lakukan,.. Selamat Membaca

Kamis, 28 Agustus 2014

Aku, Kamu, dan Dia


Disisimu, aku merasa bahagia. Meskipun kau melukai hatiku, aku tak akan pernah sedikitpun berpikir untuk meninggalkanmu. Bersamamu adalah kesempatan indah yang diberikan Tuhan untukku. Namun kenyataannya kita harus sadar, cepat atau lambat kebohongan ini akan terbongkar.

Meski aku tidak suka dia membawamu pergi. Tapi aku harus melepaskanmu. Perlahan, waktu akan menghapus semua tentangmu. Namun, aku berharap Tuhan tak pernah menghapus ingatanmu tentangku. Maaf,.. jika aku melakukan ini padamu. Sungguh,.. aku tak ingin melihatmu pergi dengannya, tapi aku harus melakukannya. Kau tahu betapa sakitnya aku saat menulis ini ? sakit,.. sakit sekali.

Bingung?? Sama, aku juga bingung???




Aku

aku adalah aku
aku dengan semangat mudaku
aku dengan gayaku
aku dengan profesiku
aku dengan karyaku
aku dengan sejuta angan dan cita- citaku