Terinspirasi dari produk kerajinan dan pernak pernik dari Jepang, Nanang Syaifurrozi mantan anak band yang awalnya gemar memainkan alat musik memutuskan untuk beralih memegang mesin jahit.

Tak ambil pusing dengan apa yang dikatakan orang, ia yang sejak awal telah diwarisi gen seni berupa jahit menjahit dari sang Mama mencoba membuat kerajinan tangan yang dapat menghasilkan uang. Bersama dengan sang kekasih Anne Yarina Chisti (yang saat ini telah berstatus isteri) keduanya merintis Rumah Warna sebagai bisnis masa depannya.
Siapa sangka usaha yang digelutinya sejak 15 tahun terakhir ini telah membuahkan hasil. Rumah Warna (RW) KINI memiliki 70 gerai yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia lengkap dengan ribuan karyawannya.Bahkan di tahun 2014, bisnis yang awalnya hanya berupa kerajinan kertas dan pernak- pernik kini juga merambah kedunia fashion. Salah satunya dengan membeli Seephllyz sebagai salah satu bagian dari Rumah Warna.
Kisah Rumah Warna sendiri berangkat dari kegemaran Nanang dan Anne dalam membuat kerajinan tangan ditahun 1999. Nanang yang saat itu berstatus sebagai anak band tak sengaja melihat peluang dimana produk kerajinan kertas Jepang begitu diminati oleh masyarakat.
“Waktu itu saya sempat liat- liat ke toko ada yang menjual produk kerajinan dari jepang dengan harga serba 5000. Karena lucu dan ramai pembeli kenapa tidak berbisnis ini” ujar Pria kelahiran Banjarnegara 18 September 1979 ini.
Sejak kejadian itu Nanang dan Anne memutuskan untuk membuat kerajinan tangannya sendiri. Bermodalkan uang 50 ribu, keduanya pun berinovasi dalam membuat kerajinan kertas. Jualannya pun mereka fokuskan seputaran teman- ke teman. “Dari sinilah, karena teman- teman banyak yang suka saya dan Anne memutuskan jualan di Sunmor dan mendapat sambutan positive,” terangnya.
Nanang mengaku, produk yang pertama ia buat adalah bingkai (frame) foto. Rumah produksinya pun ia lakukan di kamar kostnya dnegan memanfaatkan teman- teman kost sebagai sumberdayanya. “Ya, waktu itukan belum ada karyawan, jadi ya saya berdayakan anak- anak kost buat bantu- bantu ini itu,” jelasnya.
Baru ditahun 2002 bisnisnya mulai merambah ke model pernak- pernik seperti dompet, tas, dan asesories seperti tempat Hp, Binder, dan lain- lain. Berbagai orderan pun kemudian berdatangan, tak terkecuali pesanan dari luar negeri.
“Dulu itu sempat dapat orderan dari Spanyol, Yunani, dan Jepang. Tapi karena harga jual yang rendah dan pemesan agak rewel, pada ditahun 2004, ekspor saya stop. Sebagai gantinya saya fokus kepenjualan dalam negeri,”katanya.
Berbeda dengan produk Jepang, pernak- pernik yang dibuat Rumah Warna jauh lebih collour full dibanding dengan produk dari Negeri Matahari terbit tersebut. Designnya pun dibuat lebih ceria dengan karakter- karakter lucu di dalamnya. Bahkan dari segi segementasi, target pasar Rumah Warna lebih banyak menyasar anak- anak muda.
Ia memaparkan, apa yang menjadi keberhasilannya kini bukan semata- mata keajaiban biasa. Perlu adanya kerja keras dan fokus pada setiap perjalannya. “Jujur kalau cerita membangun usaha yang sampai berdarah- darah itu tidak ada. Adanya Ccma pasang surut sebuah usaha,” katanya.
Baginya, pasang surut sebuah usaha itu biasa. Trial dan error menjadi bagian yang terpisahkan untuk mencapai sebuah target yang diinginkan. ‘Kunci sukses itu ada tiga, kerja keras, focus, dan memulai bisnis jangan merugikan orang lain,” terangnya.
Selain itu Nanang juga membagi tips untuk anak muda yang ingin membuka suatu usaha. Pertama mereka harus memantapkan hati. Mau jadi apa 10 tahun ke depan.
“Anak muda sekarang itukan sukanya instan, punya target tapi cuma empat atau lima bulan. Itu terlalu singkat. Kalau mau membangun usaha dimulai dari 10 tahun dari sekarang,” ujarnya.
Kedua, lanjutnya, jangan melihat keberhasilan seseorang dimasa kejayaannya tetapi masa sebelum- sebelumnya. Hal ini tentu berkaitan dengan motivasi kehidupan seseorang. Ketiga, menghargai waktu.
“Ingat waktu it uterus berputar. Seseorang yang memanfatkan waktu dengan bersantai- santai khususnya diusia muda, di waktu tua hidupnya akan ngrekoso. Begitupula sebaliknya,” jelasnya.
Terapkan Sistem Kemitraan
Kesuksesannya dalam membangun bisnis kerajinan, pernak- pernik dan fashion, menuntut Nanang Saifurrozi (35) Pemilik Rumah Warna Corporation untuk terus berkreasi dan berinovasi. Tak hanya seputar pengembangan produk tetapi juga sistem manajemen.
Jika pengusaha lain memilih sistem Franchise (waralaba) sebagai usaha memperluas cabang dan upaya memperkenalkan produknya kepada masyarakat, memasuki tahun 2014, Nanang dan Rumah Warna justru ingin meghapus sistem tersebut dan beralih pada sistem kemitraan. Alasannya karena dianggap lebih syariah, hemat biaya, dan tidak ingin memberatkan partner atau pelaku bisnis lain.
"Konsep bisnis yang saya pegang, jangan sampai merugikan orang lain. Sebagai seorang pengusaha biasa, saya hanya ingin give and give. Bukan give and take atau bahkan take and give," ujanya saat ditemui di Kantor Rumah Warna Jalan Ring Road Utara, Kemarin (29/10).
Baginya, mengembangkan bisnis tak hanya sekeda menghitung untung dan rugi tetapi juga harus memikirkan sisi kemanusiaan pada si relasi bisnis. Nanang menjelaskan, dalam disistem Franchise, orang yang mau buka usaha pasti diminta modal sekian ratus juta rupiah atau berapa dan setiap bulannya harus setoran sekian rupiah sesuai dengan perjanjian yg telah disepakati. Padahal yang namanya usaha, pasti ada saatnya untung dan ada saatnya rugi.
"Untung rugi inilah yang kadang tidak disadari atau dimengerti oleh pemilik utama. Istilah kasarnya sebagai pemilik utama hanya tinggal duduk menunggu sejumlah nominal uang masuk ke rekening perusahaan. Padahal kita sama sekali tidak tahu apakah bulan ini si relasi itu untung atau rugi. Tau- tau diakhir bulan ditarik sekian juta. Ini benar- benar menyentuh hati," paparnya.
Selain franchise, manajemen yang diperbaharui adalah sistem pemasaran. Dimana Nanang lebih menekankan promosi dari mulut ke mulut lewat sistem semi MLM (Multi Level Marketing). Caranya dengan membuat katalog bulanan yang dikemas dengan konsep seperti majalah.
Hal tersebut tentu saja berlawanan dengan sistem pemasaran yang sudah ada karena awalnya usaha yang didirikannya ini menggunakan sistem pemasaran konvensional dengan membuka menjual produknya di toko.
"Sebenarnya konsep ini masih dalam tahap pembahasan dan belum terealisasi. Namun kami berharap konsep ini dapat segera selesai tahun ini," terang Bapak empat anak ini.
Tak Masalah Produknya Dijiplak, Itung- Itung Promosi Gratis
Sudah bukan hal baru, jika brand yang telah memiliki nama selalu dibuat versi KWnya. Tak terkecuali untuk produk Rumah Warna. Menyikapi hal tersebut Nanang mengaku biasa saja, bahkan ia malah merasa bersyukur dan bangga sebab produknya dapat diterima masyarakat.
“Adanya KW itu membuktikan jika produk kita banyak yang suka. Buktinya design kita ada dimana- dimana,” ujar Nanang sambil tertawa.
Bagi Nanang, maraknya produk KW di pasaran justru mendatangkan berkah sendiri. Diakui atau tidak barang KW kerapkali membawa pelanggan yang awalnya tidak tau dengan produk Rumah Warna menjadi tau.
Dia mencontohkan, saat barang KW itu ditawarkan, pasti si penjual akan menyebut brand kita sebagai promosi awalnya. Ini lo, tas KWnya Rumah Warna kalau ada orang yang tidak tau, pasti orang itu akan menanyakan kembali. Rumah Warna itu apa. Disitulah terjadi proses pertukaran informasi antara penjual dan pembeli. Dimana pembeli akan menjelaskan apa itu RW dan apa saja produknya.
“Bukankan malah menguntungkan? Bagi saya itu promosi dan itu bagus. Kita tidak usah repot- repot cari pelanggan. Kalau dia mau yang asli dia tinggal datang ke gerai dan beli produk kami,” terang Nanang.
Nanang mengaku, ia sama sekali tidak mempermasalahkan barangnya dibuat KW atau tidak. Bahkan jika berbicara rejeki, rejeki itu sudah ada yang atur. “Saya sama sekali tak percaya kalau rejeki itu tertukar yang ada rejeki itu sudah diatur sama Tuhan,” katanya.
Olehkarena itu, untuk memberikan diferensiasi produk, antara barang KW dan Ori, Rumah Warna akhirnya memberlakukan system bergaransi. Jadi semua produk yang divbeli dari gerai asli bisa ditukar atau diganti jika terjadi cacat fisik. “Sesuai tagline kita, Beda, Gaya, dan Bergaransi,” ujarnya.
Selain tagline, Rumah Warna juga dilengkapi visi dan misi sebagai pelengkapnya. Visi Rumah Warna, menjadi perusahaan fashion dan craft nomer satu di Indonesia yang terbesar, terbaik, dan bermanfaat. Terbesar dengan 500 store dan 50 ribu tenaga kerja, “Itu sih baru anggan-anggan. Kenyataannya kami baru punya 70 gerai dengan ribuan karyawan,” terangnya.
(diterbitkan Radar Jogja, 31/10/2014)


