Kamis, 30 Oktober 2014

Gagal Jadi Dokter Spesialis Mata, Banting Stir Jadi Pengusaha


Berawal dari kegagalannya menjadi dokter spesialis mata, dr. Gideon Hartono akhirnya banting stir menjadi seorang pengusaha. Tak jauh- jauh dari profesi awalnya yakni seorang dokter puskesmas, pria kelahiran Jogjakarta 10 Oktober 1963 ini lebih memilih mendedikasikan diri dibidang kesehatan dan pendidikan. Salah satunya dengan berjualan obat yang direalisasikan dalam bentuk apotek 24 jam atau yang dikenal dengan sebutan Apotek K24.

Pria 52 tahun ini mengaku, berdirinya apotek K24 tidak terlepas dari pengalaman pribadinya saat  ingin melanjutkan profesi sebagai spesialis di salah satu Universitas terkemuka di Jogjakarya. Namun karena ia adalah seorang keturunan Tionghoa maka sulit baginya untuk mendapatkan kursi di Universitas.

"Dulu yang namanya keturunan Tionghoa itu selalu dinomerduakan. Tidak hanya dalam mencari pekerjaan, dibidang pendidikan pun juga demikian," terangnya.

Meski begitu dr. Gideon tidak putus asa. Sembari menenangkan hati, ia saat itu berstatus sebagai PNS dibidang kesehatan menerung dan mencoba berdialog antara dengan diri sendiri dengan Tuhan. Dalam penerungannya terbesit kejadian masa lalu dimana masih banyak orang yang kesulitan mencari obat dimalam hari ataupun hari libur. "Kalaupun ada pasti harganya diatas harga normal," jelasnya.

Ia melanjutkan, orang sakit itukan tidak ada batasan waktunya. Sakit itu datangnya ya tiba- tiba. Bisa malam atau hari libur. Nah kalau sewaktu- waktu perlu obat masak harus ke rumah sakit. Bagi masyarakat kalangan bawah hal itu tentu sangat memberatkan mereka.

Berangkat dari keprihatinannya itulah, di tahun 2002, pria yang suka dengan fotografi ini memiliki ide untuk membuka apotek 24 jam non stop dengan pelayanan full yakni buka selama 24 jam baik hari biasa ataupun hari libur dengan harga sama, pagi, siang, dan malam. Dengan mengusung singkatan, Komplit Obatnya, 24 Jam Bukanya, akhirnya pada tanggal 24 Oktober 2002 apotek K24 berhasil diresmikan.

Pelayanan yang diutamakan apotek K24 meliputi banyak hal. Tidak hanya seputar hari serta jam bukanya tetapi juga memberikan secara komplit, menjual obat- obatan asli (original), layanan apoteker secara gratis, dan menyediakan pelayanan antar.

Apotek K24 sendiri adalah apotek pertama yang diwaralabakan. Menginjak usianya yang ke 12 tahun, apotek dibawah jaringan PT. KDE Indonesia telah berkembang pesat menjadi apotek 24 jam terbesar dengan jumlah cabang 343 apotek tersebar diseluruh Indonesia.

Diakuinya, bukan perkara mudah untuk dapat membangun bisnis menjadi sebesar yang sekarang. Mau belajar, pantang menyerah, dan tetap berusaha, menjadi tiga kunci sukses berhasilnya suatu usaha. Selain usaha itu harus dimulai dengan sesuatu yang baru.

“Inovasi itu penting. Memulai usaha jangan yang sudah ada. Learning by doing kunci dari sebuah keberhasilan. Di dunia bisnis, trial and error adalah suatu yang biasa, jika seseorang ingin sukses ya harus melaluinya,” terangnya.

Tak hanya itu untuk mendukung pelayanan dari K24, dr. Gideon juga mendirikan Hi- Lab Diagnostic Center sebagai laboratorium klinik yang dapat digunakan untuk melakukan pengecekan secara cepat, tepat, dan mudah karena dapat dilakukan dengan sms atau internet online.

Kemampuannya Bermarketing Didapat dari Bisnis Moci

Selain dari sisi kemauan, kerja keras, pantang menyerah, dan lain- lainnya, keberhasilan sebuah usaha itu juga harus didasari oleh kemampuan berkomunikasi dan rasa profesionalitas. “Sebagai pengusaha, kita tidak bisa menjalankan usaha sendiri tanpa bantuan dari orang lain. Untuk itu komunikasi, kemampuan memasarkan, dan negosiasi sangat- sangat dibutuhkan,” ujarnya.

Dirinya mengaku, kemampuan berkomunikasi dan marketingnya ini didapat sejak ia duduk dibangku SMP. Tepatnya saat menjalankan bisnis tepung beras merah.

Berangkat dari pengalaman masa lalu, ia yang terlahir dari keluarga yang tidak mampu memaksanya untuk dapat membantu orangtuanya. Caranya dengan berjualan tepung beras merah yang dijadikan bubur bayi ataupun kue moci ke pasar- pasar tradisional.

Percaya gak percaya, diusianya yang masih belia dr. Gideon kecil sudah menjajakan dagangannya sampai Klaten. Sambil ditemani sang karyawan, almarhum Bapak Kuat, setiap hari libur ia selalu mengantar pesanan dengan perasaan semangat.

“Senangnya karena saat itu naik angkot. Jarang- jarang bisa naik angkot sampe keluar kota. Apalagi sampe klaten,” ujarnya.

Ia mengaku, hal yang paling tak terlupakan dari pengalaman tersebut adalah duduk disebelah kiri Pak Kuat dan jangan lupa menggancing kantong celananya dengan peniti. Jadi dulu, ibu dr. Gideon pernah berkata kalau ia sudah dapat uang alias bayaran, uangnya harus ditaruh kantong dan diberi peniti.

“Itu kalau kantongnya di celana. Katanya sih biar gak dicopet. Kalaupun dicopet, si copet akan kesulitan mengambil uangnya,” katanya sambil tertawa.

Karena pengalamannya itulah, sejak SMP, dr. Gideon telah akrab dengan namanya tawar- menawar, bertemu pelanggan, dan proses negosiasi. Membungkuk, berkata sopan, dan memperlakukan pelanggan bak seorang raja menjadi pelajaran tersendiri. Bahkan hingga kini semua kebiasaan tersebut masih dibawanya hingga sekarang.

“Jadi saat pertama kali saya terjun sebagai pengusaha dan harus bertemu dengan orang, saya sama sekali gak shock. Karena dari awal saya sering berkomunikasi dengan orang,” jelas anak ke lima dari tujuh bersaudara ini.

Ia mengungkapkan, pengusaha itu jangan sombong, mentang- mentang kita sudah jadi atasan lantas meninggalkan sopan santun, tata karma, bahkan slogan pelanggan adalah raja. Karena tanpa pelanggan, kita itu tidak ada apa- apanya.

(Diterbitkan Radar Jogja, 24/10/2014) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar